Nikolaus Loy

E-Learning Project
 
HomeFAQMemberlistUsergroupsSearchPortalRegisterLog in

Share | 
 

 Perempuan dalam Gerusan Kapitalisme-Patriarki

Go down 
AuthorMessage
ria_perm
Guest



PostSubject: Perempuan dalam Gerusan Kapitalisme-Patriarki   Fri Jul 13, 2007 2:48 pm

Kekerasan berbasis gender tidak bisa dilepaskan dari budaya patriarki. Budaya patriarki telah menyebabkan relasi laki-laki dan perempuan berlangsung dan berpusat dalam kontrol laki-laki. Hal ini selanjutnya mengakibatkan adanya penguasaan dan diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan oleh lelaki. Keyakinan bahwa kodrat perempuan itu lemah, posisinya di bawah laki-laki, bertugas melayani dan mudah ditindas menjadikan kaum perempuan dianggap sebagai hak milik laki-laki dan dapat diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan. Hak istimewa yang dimiliki laki-laki akibat konstruksi gender telah menempatkan laki-laki untuk memiliki kekuasaan lebih tinggi daripada perempuan

Dalam budaya patriarki, perempuan (dan anak) berada dalam posisi sub-ordinat, yang kemudian menjadikan perempuan rentan akan kekerasan. Lemahnya posisi perempuan tidak hanya mengakibatkan kekerasan, namun juga marginalisasi atau proses pemiskinan perempuan dalam ekonomi, subordinasi dalam keputusan politik, dan ketimpangan dalam bidang pendidikan.

.....

more: bunga-rumput.blogspot.com
---------------------------
numpang posting ya pak..
saya belum register
Back to top Go down
nymph



Male Number of posts : 2
Age : 31
Nama : nimrot
NIM : 151050126
Mata Kuliah : Eknomi dan Politik Internasional
Registration date : 2008-03-17

PostSubject: Re: Perempuan dalam Gerusan Kapitalisme-Patriarki   Tue Mar 18, 2008 12:14 am

sebenarnya gimana ya tentang masalah perempuan ini?
kalo bahasa inggrisnya tuh: complicated.
kalo dari keilmuan HI, HAM aja di artikan berbeda2 oleh tiga generasi yang berbeda pula: barat sbg generasi 1, timur dan negara sosialis/sosialis-komunis sebagai generasi 2, dan negara2 berkembang sebagai generasi 3.

saya pikir, saya sebagai lelaki dan yang dibesarkan oleh seorang ibu sangat menyayangi ibu dan perempuan. dan tentang hak perempuan yang sering dibawah lelaki, khususnya di indonesia aja dulu, kebanyakan tidak berpihak kepada perempuan.

tapi tunggu dulu, kalo perempuan indonesia mau menuntut hak itu boleh2 saja, saya termasuk orang yang kalau boleh dibilang ngga memandang perempuan hanya boleh didapur, kasur, dan anak. siapa bilang? wanita emang harus dihargai. namun di indonesia kasusnya lain kalo semakin jauh ke arah menuntut hak tersebut. pasalnya ada hari ibu di indonesia, dan apakah ada hari ayah? logikanya ga akan ada perempuan tanpa laki-laki atau seorang ayah. kenapa tidak ada hari penghormatan kepada ayah, sementara wanita/perempuan indonesia vokal suaranya untuk memperjuangkan kesamaan hak mereka.

ada hari kartini yang dijadikan sebagai batu pijakan perempuan untuk semakin vokal dalam menyuarakan haknya. kenapa ngga ada hari soekarno atau sisingamangaraja? kenapa hanya hari kartini, sementara banyak juga pahlawan pria di indonesia, dan proklamator indonesia seorang bapak, pejuang, dan lelaki.

kalau kita juga lihat tayangan2 di televisi, khususnya di Global Tv, lihat saja acara Aku Perempuan. pada setiap iklannya selalu ada larangan/warning yang isinya: Lelaki dilarang menonton acara ini. apa maksudnya? apakah Global Tv adalah stasiun Tv bagi perempuan? lantas, mau dikemanakan para lelaki? dibuang?

ada juga acara komedi situasi di Trans Tv dengan judul Suami-Suami Takut Istri. dari judul yang provokatif itu, lantas tidak layakkah ada komedi situasi dengan judul Istri-Istri Takut suami?

untuk dua poin ini saya rasa bukannya tidak layak, namun bilamana dilawan dengan hal tersebut, lantas perempuan di Indonesia bakal mogok menyusui anak2 lelakinya. bisa jadi. lantas apa, adakah rencana wanita indonesia ingin menjadi wanita2 aLa Xena/Callisto? Wanita Amazon?

saya rasa keluar dari masalah keilmiahan, memang sudah takdir bahwa wanita tidak bisa secara penuh mengadopsi kemerdekaan mutlak bagi dirinya dalam rangka hak asasi. ada norma lain seperti agama, lantas haruskah perempuan Indonesia mengabaikan agama demi cita2 luhurnya untuk meraih persamaan hak itu? "persamaan" lho, itu bukan main2, sangat tinggi secara filsafat. haruskah wanita kehilangan sisi kelembutan dan keibuannya demi meraih cita2 persamaan haknya dengan lelaki?

sudah jelas bahwa hawa diciptakan untuk menemani adam yang sangat teramat kesepian. jadi silahkan disimpulkan saja, apakah konsep "menemani" itu tidak bisa diperhalus oleh kalangan perempuan yang notabenenya adalah makhluk Tuhan yang memang halus dan lembut? bilamana ada seorang adam juga tetap tidak bersikap selayaknya dan sepatutnya dalam artian yang sangat positif terhadap perempuan, jelas dia bukan adam yang mengerti wanita sepenuhnya. yang juga butuh segala sesuatu yang mungkin sama dengan apa yang dibutuhkan seorang adam pada beberapa hal tertentu.

terimakasih.
Back to top Go down
View user profile
 
Perempuan dalam Gerusan Kapitalisme-Patriarki
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Islamic Months Graphics for Calendar Displays- Muharram, Safar, Rabee al Awwal, Rabee Ath Thaani

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Nikolaus Loy :: Lobby :: Free Talk Guest-
Jump to: